
JAKARTA, LacakKasus.com – Harapan Indonesia untuk memboyong jet tempur canggih asal Amerika Serikat, F-15EX Eagle II, menemui jalan buntu. Pabrikan pesawat raksasa, Boeing, secara resmi menyatakan telah mengakhiri proses kampanye penjualan jet tempur tersebut untuk Indonesia.
Kabar mengejutkan ini dikonfirmasi langsung oleh Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defense, Space, and Security, Bernd Peters, di sela-sela ajang bergengsi Singapore Airshow pada Selasa (3/2/2026).
“Saya akan memberitahu Anda bahwa ini (perjanjian dengan Indonesia) tidak lagi menjadi kampanye aktif bagi Boeing,” ujar Peters kepada awak media.
Alasan Kemenhan: Harga Masih Terlalu Tinggi
Merespons pernyataan pihak Boeing, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, memberikan klarifikasi. Rico menjelaskan bahwa rencana pengadaan jet tempur generasi 4.5 tersebut memang belum masuk ke tahap penganggaran resmi.
Meskipun Pemerintah Indonesia telah meminta penawaran (Letter of Request) sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang, kendala utama terletak pada nilai kontrak yang diajukan pihak AS.
“Harga yang diajukan dinilai masih terlalu tinggi sehingga belum dapat ditindaklanjuti,” ungkap Rico kepada media pada Rabu (4/2/2026).
Kilas Balik Komitmen F-15IDN
Penjajakan pembelian F-15 ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2021 di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Puncaknya terjadi pada tahun 2023 saat Prabowo mengunjungi fasilitas Boeing di St. Louis, Missouri, AS.
Dalam kunjungan tersebut, Indonesia sempat menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk pembelian 24 unit F-15EX. Pihak AS bahkan sudah menyiapkan kode khusus F-15IDN sebagai identitas jet tempur milik TNI Angkatan Udara tersebut. Namun, ketiadaan realisasi anggaran dan dinamika prioritas nasional membuat proyek ini akhirnya mendingin.
Proyek Helikopter Apache Tetap Berlanjut
Meski rencana F-15EX terhenti, hubungan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Boeing tidak sepenuhnya berakhir. Bernd Peters menegaskan bahwa proyek lain, yaitu penjualan dan dukungan untuk helikopter AH-64 Apache, masih berjalan sesuai rencana.
Terkait langkah selanjutnya, Brigjen TNI Rico menegaskan bahwa pemerintah belum memutuskan untuk mengalihkan anggaran ke opsi pesawat tempur lain. “Seluruh rencana pengadaan alutsista tetap melalui kajian menyeluruh dan keputusan strategis pemerintah,” tutupnya.
